1. Pengertian Motivasi
Motif yang dalam bahasa Inggrisnya Motife berasal dari kata motion yang berarti gerak atau sesuatu yang bergerak. Motif adalah keadaan didalam pribadi orang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas. Motivasi adalah penggerak tingkah laku ke arah suatu tujuan dengan didasari adanya suatu kebutuhan.
Menurut Mc Donald:”Motivation is an energy change within the person caraterized by affective `rousal and anticipatory goal reaction". (Motivasi adalah perubahan energi dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan).8
Pendapat S Nasution, M. A. mengemukakan: "To motivate a child to arrange condition so that the wants to do what he is capable doing". Memotivasi murid adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.9
Selanjutnya Thomas M Risk,
memberikan pengertian motivasi sebagai berikut: "we may define motivation, in a pedagogical sense, as the conscious effort on the part of the teacher to establish in students motives leading to sustained activity toward the learning goals" (Motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menuimbulkan motif-motif pada diri peserta didik/ pelajar yang menunjang kegiatan kearah tujuan-tujuan belajar).10
Menurut kebanyakan definisi, motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu: menggerakkan, mengarahkan dan menopang tingkah laku manusia. Menggerakkan berarti menimbulkan kekuatan pada individu; memimpin seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. Untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan (reinforce) intensitas dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan-kekuatan individu.11
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut diatas, jelaslah bahwa masalah-masalah yang dihadapi guru adalah mempelajari bagaimana melaksanakan motivasi secara efektif. Seorang dalam melaksanakan kegiatan mengajar, agar dapat memotivasi peserta didik hendaknya melihat beberapa faktor berikut:
1. Pendidik sebagai sumber pengalaman tingkah laku sekaligus sebagai objek perhatian peserta didik harus:
a. Memiliki kewibawaan dan kepribadian yang kuat dan menarik.
b.Menunjukkan minat yang besar terhadap isi pelajaran yang disampaikannya.
c. Mampu memilih perangkat belajar atau menciptakan situasi belajar yang mampu membangkitkan motif belajar.
2. Peserta didik adalah individu yang akan mengalami tingkah laku tertentu dan sekaligus subyek yang memperhatikan. Maka pendidik perlu mengenal jenis dan tingkat kebutuhan peserta didik bagi usaha memotivasinya seperti:
a. Motif belajar dan minat belajar peserta didik
b. Insentif yang perlu diberikan kepada peserta didik, serta
c. Motif-motif lain yang ada pada diri peserta didik seperti motif ingin rasa aman, ingin kasih saying, ingin perlakuansama, dan seterusnya.
Sebagaimana yang telah diuraikan diatas bahwa memotivasi belajar penting artinya dalam proses belajar siswa oleh karena itu seorang pengajar hendaknya mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan. Maka guru dapat melakukan cara-cara berikut:
1. Usahakan jangan mengulangi hal-hal yang telah mereka ketahui, karena akan menyebabkan kejenuhan.
2. Suasana fisik kelas jangan sampai membosankan
3. Hindarkan terjadinya frustasi dikarenakan situasi kelas yang tak masuk akal, dan diluar jangkauan pikiran manusia
4. Hindarkan suasana kelas yang bersifat emosional sebagai akibat adanya kontak personal.
5. Siapkan tugas-tugas yang menantang selama latihan
6. ,/span>Berilah siswa pengetahuan tentang hasil-hasil yang telah dicapai oleh masing-masing siswa.
7. Berikan ganjaran yang pantas terhadap usaha yang dilakukan oleh siswa.
2. Tujuan Motivasi
Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan motivasi yaitu untuk menggerakkan/ menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil/mencapai tujuan tertentu.12
3. Fungsi Motivasi
Motivasi sebagai suatu proses mengantarkan murid kepada pengalaman yang memungkinkan mereka dapat belajar. Sebagai proses motivasi mempunyai fungsi antara lain:
a. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti perbuatan belajar.
b. Sebagai pengarah artinya, mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan.
c. Sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.13
Sedangkan fungsi motivasi menurut Ramayulis yang dikutip dari proyek pembinaan prasarana dan sarana Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Jakarta adalah:
a. Memberi semangat dan mengaktifkan murid agar tetap berminat dan siaga.
b. Memusatkan perhatian anak pada tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan pencapaian belajar.
4. Macam-Macam Motivasi
Berdasarkan sumbernya motivasi dapat dibagi menjadi dua yaitu : (1) motivasi intrinsik dan (2) motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan menyenagi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar, seperti pujian dan hadiah, peraturan sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan seterusnya.15
5. Prinsip Motivasi dalam Belajar
Prinsip-prinsip ini disusun atas dasar penelitian yang seksama dalam rangka mendorong motivasi belajar peserta didik di sekolah. Dalam hal ini Keneth H. Hover mengemukakan prinsip-prinsip motivasi antara lain:
a. Pujian lebih efektif dari pada hukuman. Hukuman bersifat menghentikan suatu perbuatan, sedangkan pujian bersifat menghargai apa yang telah dilakukan. Oleh karena itu, pujian lebih besar nilainya bagi motivasi belajar peserta didik.
b. Motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif dari pada motivasi yang dipaksakan dari luar. Sebabnya ialah karena kepuasan yang diperoleh individu itu sesuai dengan ukuran yang ada dalam dirinya.
c. Motivasi itu mudah menjalar atau tersebar kepada orang lain. Guru yang berminat tinggi dan antusias akan menghasilkan peserta didik yang juga berminat tinggi dan antusias pula. Demikian pula peserta didik yang antusiasn akan mendorong motivasi peserta didik lainnya.
d. Tugas-tugas yang dibebankan oleh diri sendiri akan menimbulkan minat yang lebih besar untuk mengerjakannya dari pada apabila tugas-tugas itu dipaksakan oleh guru. Apabila peserta didik diberi kesempatan untuk menemuklan masalah secara mandiri dan memecahkannya sendiri, hal itu akan mengembangkan motivasi dan disiplin lebih baik.
e. Tekanan kelompok peserta didik (peer group) kebanyakan lebih efektif dalam memotivasi dari pada tekanan atau paksaan dari orang dewasa. Peserta didik, terutama para adoselen, sedang mencari kebebasan dari orang dewasa; ia menempatkan hubungan kawan sebayanya yang lebih tinggi. Ia bersedia melakukan apa yang akan dilakukan oleh kelompok sebayanya, dan demikian sebaliknya. Oleh karena itu, kalau guru hendak membimbing peserta didik belajar, arahkanlah anggota-anggota kelompok itu kepada nilai-nilai belajar, baru peserta didik tersebut akan belajar dengan baik.16
6. Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa
Sehubungan dengan pemeliharaan dan peningkatan motivasi siswa, DeCecco & Grawford (1974) mengajukan 4 fungsi pengajar:
1. Menggairahkan siswa
Dalam kegiatan rutin di kelas sehari-hari pengajar harus berusaha menghindari hal-hal yang monoton dan membosankan. Ia harus selalu memberikan pada siswa cukup banyak hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan. Guru harus memelihara minat siswa dalam belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk berpindah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam situasi belajar. 'Discovery learning' dan metode sumbang saran ('brainstorming') memberikan kebebasan semacam ini. Untuk dapat meningkatkan kegairahan siswa guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai disposisi awal siswa-siswanya.
2. Memberikan harapan realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan siswa yang realistis, dan memodifikasikan harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis. Untuk ini pengajar perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keberhasilan atau kegagalan akademis siswa pada masa lalu, dengan demikian pengajar dapat membedakan antara harapan-harapan yang realistis, pesimistis, atau terlalu optimis. Bila siswa telah banyak mengalami kegagalan, maka guru harus memberikan sebanyak mungkin keberhasilan pada siswa.
3. Memberikan insentif
Bila siswa mengalami keberhasilan, pengajar diharapkan memberikan hadiah pada siswa (dapat berupa pujian, angka yang baik, dan lain sebagainya) atas keberhasilannya, sehingga siswa terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Sehubungan dengan hal ini umpan balik merupakan hal yang sangat berguna untuk meningkatkan usaha siswa.
4. Mengarahkan
Pengajar harus mengarahkan tingkah lau siswa, dengan cara menunjukkan pada siswa hal-hal yang dilakukan secara tidak benar dan meminta pada mereka melakukan sebaik-baiknya.17
8Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar (Bandung: Sinar Baru, 1992), hlm. 173
9S. Nasution, Asas-asas Mengajar (Bandung : Jemmars tt), hlm. 103
10Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 10
11Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), hlm. 72
12Ibid., hlm. 73
13Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar (Bandung: Sinar Baru, 1992), hlm. 175
14Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Sebagaimana dikutip oleh Ramalis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta Pusat: Kalam Mulia, 1998), hlm. 171
15Muhibbin Syah, Psikologi Pendekatan dengan Pendekatan Baru (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2003), hlm. 137
16Tabrani Rusyan, dkk. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Karya, 1989), hlm. 124
17Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 177



Leave a Reply
hai